Ketika Al Aqso Menjerit
by Ahmad Prayitno on January 8th, 2009
in Tulisan Kecil
Ratusan kaki mungil menapak ke arah ladang mayat. Mata mereka liar, mencoba mencari wajah-wajah teduh yang selama ini menghadiahkan ciuman manis di pipi mereka. Tangan mulus mencoba menyibak tumpukan-tumpukan mayat tanpa kepala. Pembantaian yang ke sekian ratus kali, kembali terjadi di hadapanku.
“aina ummi..? aina abi..?”
jeritan menggema. Kepolosan jiwa suci tak berdosa mulai membentak tajam ke arah monster yang duduk di atas tubuh baja hitam. Merkeka mencoba menghadang, menyerang, melemparkan batu-batu kecil ke arah monster itu.
“dor….dor… monster pun menggarang
Seorang mujahid mungil roboh, tubuhnya di lumat senjata api, dan jatuh menjadi syahid kecil. Mujahid-mujahid lain tetap terus melaju.
Follow up:
“Allahu akbar….”
Mereka maju tanpa henti. Para monster mulai kewalahan, baja hitam yang mereka tunggangi kini ambil alih.
Aku kaget!!!
“hai mujahid-mujahid kecilku kembali”
Jeritku penuh kecemasan. Para mujahid berlari tergopoh-gopoh, datang ke arahku.
“kalian berlindunglah di balik tubuhku ini”
Ku coba menahan timah api yang menembus di setiap kulitku. Akh.. aku tertegun, mata ku terbelalak, melihat dua mujahid kecil, berusaha menghadang maju ke mulut baja hitam, mata mereka tajam. Terulas senyum indah menghiasi wajah yang teramat lugu itu. Tak terlihat kecemasan dalam diri mereka berdua. Mereka berepegangan tangan kokoh.
Tubuhku bergetar, ingin rasanya menjerit,
“hay.. muajhid kembali lah!!”
Tak ada satu peluru pun yang menyentuh kulit si pemberani kecil ini, baja hitam pun tak sanggup memuntahkan apinya. Monster-monster ganas itu mulai bosan memainkan senjata pemusnahnya, mereka menjauh, meninggalkan tempat kediamanku yang sudah ternoda dengan darah pembantaian. Mereka mulai mengendarai bajah hitam entah kemana, mencari tempat yang penuh dengan darah suci. Monster itu memang tidak pernah kenyang dengan tetesan darah yang meraka minum. Darahku menggelegak memandang tubuh-tubuh nista yang mulai menjauh.
***
Keadaan mulai sedikit tenang, setelah kepergian para monster peminum darah. Mujahid- mujahid kecil mulai kembali bermunculan, dan mereka berdiri di hadapanku, menatap tajam,
“kami akan selalu melindungimu Al-Aqsha”
Suara yang termat lantang, bergemuruh, menggoncangkan tanah al-quds. Dengan kepala terikat, tertulis sebuah ukiran indah ‘laila ha illallah.
“Selamatkan Al-quds, dari tangan yahudi nista.” Mujahid-mujhaid kecil berteriak, menggetarkan tanah suci ini.
kata-kata itu tak akan bisa kulupakan, tapi kenapa harus mereka yang bicara seperti ini, kenapa….? Mana yang lain, kenapa harus mujaid mujahid mungil, belum sepantasnya para mujahid kecil ini mengorbankan nyawa demi tanah sici ini. Apa tak ada lagi yang bisa memberikan senyuman indah ke hadapan mereka, atau mencoba menggantikan posisi para mujahid kecil ini. Memberikan kesejukan di sela kehidupan mereka.
Memang… semenjak kedatangan monster itu, tanah Al-Quds berobah, tak ada lagi kedamaian, kebahagian, rintihan dimana-mana, jerit tangis menjadi musik pembuka pagi, ketakutan di setiap kegelapan malam. Semua bertarung dengan kematian.
Begitu juga denganku, dulu.. sering kusaksikan jiwa-jiwa suci menghampiriku, mereka jadikan aku tempat sujud, bertasbih, bertahlil, bemunajab dan menyatukan jiwa-jiwa mereka penuh ketenangan dan kedamian.
Tapi kini… kemerduan Azan hilang di terpa sunyi, terkadang berobah menjadi gonggongan senjata api
. Aku rindu kedamain…
***
Kusaksikan matahari mulai malu dengan ke hadirannya, hari ini kembali dia menjadi saksi atas pembantaian yang ke sekian ratus kali. Mujahid-mujahid kecil juga beraangsur-angsur menjauh pergi. sesaat lagi malam akan datang menjelang.
Di saat ku merenung, terdengar desahan nafas. Ternyata ada dua anak kecil, sepertinya satu dari mereka berumur 4 tahun, dan satunya lagi sekitar tujuh tahun. Mereka kelihatan capek sekali.
Oh iya…aku ingat, bukankah ini dua mujahid kecil pemberani itu. kenapa mereka belum juga pergi, masih membekas di benakku apa yang telah mereka lakukan, sangat berani dua mujahid ini, menghadang para monster, menunggu timah api menembus tubuh mungil mereka,
Tapi apa yang akan meraka lakukan disini. Aku tidak mengerti!! kenapa mereka tidak mau meninggalkan diriku. Atau memang tak ada lagi bagi mereka tempat peristirahatan
“kak yasin…ummi dan abi mana?”
si kecil menyeringai, mengungkapkan kerinduan.
“ummi dan abi sekarang di sorga, menanti kehadiran kita disana”
jawab mujahid yang satunya lagi.
” aku sangat rindu dengan ummi dan abi…..”
si kecil merengek dan kusaksikan air mata meleleh di pipinya
“jangan menangis Ahmad, kita akan segera bertenmu ummi dan abi”
Ternyata mereka dua kakak beradik, Ahmad dan Yasin. Dua anak kecil yang tak lagi bisa merasakan kasih sayang dari ayah dan ibu tercinta, tempat bertumpu sudah tiada lagi.
Keheningan malam datng menjelang, keresahan semakin merambah ladang alquds. Meski bulan datang menampakkan sinar indahnya. Gemintang hadir menyapa sunyi.., tak bisa kusaksikan kebahagiaan. semua tak ada gunna nya lagi. Ratusan nyawa tersisa hanya bisa mengatub mulut, terkadang mengerang di setiap kepedihan. Oh… Al-quds, dimana lagi senyum bisa di temukan??
Hangatnya pelukan mujahid kecil itu masih kurasakan, kini mereka terlelap dalam dekapanku, terbuai indah dalam mimipi menjadi seorang syahid.
Kurasakan malam ini terasa sangat berbeda dari malam biasanya, sedikit membawa ketenangan, ditemani dua mujahid kecil pemberani. Kegagahan mereka seakan mengobati kerinduanku terhadap para syahid mulia, syekh ahmad yasin, Yahaya Ayas, Solah Sahadah, Abdul Aziz Ratisi. Begitu banyak dari merka yang ku rindukan, ku kenang perjuangnamu dalam hati ini wahai para mujahid..
***
Malam semakin larut, tiba-tiba…
Bum…bum..bum..
Sepertinya suara baja hitam.
Akh… mereka datang lagi, batinku menjerit, tapi kenapa ditengah malam gelap begini,
Mujahid kecil terlihat bangun,
“Ahmad…bangun dan bersiaplah!!”
satu dari mujahid bangun dan membangunkan mujahidku yang satunya lagi
. “ada apa kak Yasin..”
si kecil mendesah, tangan mungilnya memegang erat batu kecil di tangannya.
“apa ada monster, apa kita akan syahid kak yasin…?”
kata-katanya mendencing keras di telingaku, tubuhku merinding, begitukah ternyata kerinduan syahidnya??
“kak yasin… ayo kita serang monster itu kak.”
Sikecil begitu bersemangat, tak kuasa dia menahan dirinya, kobaran api dalam dirinya kini telah membara. Dan semakin membakar dirinya.
“tenang Ahmad…kita lihat dulu apa yang akan mereka lakukan.”
Kutatap tajam monster itu, tangan kotor merka mencoba menggali lobang di ujung kediamanku, mataku terbelalak… oh tidak, mereka memasukkan ranjau, ini jebakan. Aku ingat , besok tentara HAMAS akan datang, mereka akan menyerang, ternyata monster mengetahui rencana tentara HAMAS.
Bagai mana ini…HAMAS akan terjebak, akankah kusaksikan tubuh mereka hancur lebur dengan ranjau ini, tidak mungkin…
“kak yasin itu apa?”
ditengah kecemasanku, si kecil bertanya penuh keheranan dan ketidak tahuannya, tapi kenapa Yain malah tersenyum..??
“Ahmad pokoknya kita akan segera bertemu dengan ummi dan abi.”
Yasin memegang tangan Ahmad kokoh, mengecup mesrah kening Ahmad. Dan memeluknya erat penuh kasih sayang.
Aku tidak mengerti, apa yang di pikirkan Yasin. Ingin hatiku membelai mujahi-mujahid ini, namun tangan ku kaku tak bisa bergerak.
Jam 02.00 subuh, pagi mencekam, keheningan malam semakin hilang, suara angin meliup penuh kecemasan, bintang dan rembulan tampak gaduh, tapi Yasin dan Ahmad menatap tajam kedepan, pandangan lurus ke arah ranjau. Denyut jantung Yasin semakin mengencang, mulutnya komat kamit membaca lafaz tahlil. Berbeda dengan Ahmad, ia hanya mencoba berpikir, bagaimana dia bisa bertemu dengan ummi dan abinya, dan tidak tahu kalau yang ada di depannya sekarang adalah ranjau, yang akan memusnahkan tentara HAMAS.
Gemuruh suara Takbir, mulai teredengar mendekat, kucoba menelusuri arah suara itu. Ternyata tentara HAMAS. Mereka semakin mendekat, kencang, beraksi lakasna ninja. Jangan…!! Batinku menjerit. Kegelisahanku memuncak. Hanya tinggal hitungan langkah. 100 meter lagi, mereka akan di terjang ranjau.
“Ahmad.. naiklah ke atas punggung kakak”
“kita akan terbang menuju sorga”
Si kecil memandang heran, dengan sigap ia langsung menurut apa yang di perintahkan Yasin.
“benarkah kita akan ke sorga?”
Senyumnya terulas indah
Yasin bangkit, Ahmadpun menempel kokoh di atas punggung Yasin.
“satu..dua..tiga… Allahu Akbar……..”
Yasin berteriak keras, berlari kencang menuju arah ranjau.
“Ummi…. Abi…. Kami datang!!!
Suara Ahmad pun tak kalah kerasnya.
Mataku terbelalak. Tubuh mereka akan hancur lebur. Tiba-tiba…
‘DUAR….’
Letusan dahsyat menghancurkan dua tubuh mungil, menggemparkan tanah Al-Quds, terdengar di setiap sudut. Membangunkan mereka yang tertidur.
“La ila ha illallah…”
Salah seorang tentara HAMAS mencoba menenangkan diri, dari keterkejutannya.
“Allah telah mengirim bantuan melalu dua syahid kecil itu”
Suara tentara itu pelan, air matanya pun bercucuran menganak sungai. Dengan langkah terhenti, dan tubuhnya terpaku.
Dia tidak akan menyangka, andaikan dua anak kecil itu tidak mengahadang ranjau yang tertanam itu, pasti dia dan tentara-tentara lain yang akan Syahid.
“wahai saudar-saudaraku…Allah telah menyelamatkan kita melalu malaikat kecil Nya, kini Yahudi itu telah beranggapan kalau kitalah yang mati, berhati-hatilah.”
***
Tak bisa rasanya ku tahan tetesan air mata ini, mengalir begitu deras. Aku hanya bisa berdiam diri, mujahid kecilku kini pergi. Mimpi mereka menjadi syhaid telah menjadi kenyataan. Kerinduan telah terobati.
“Mujahidku…terbanglah menuju sorga”
Tanah suci ini tak akan lepas begitu saja. Ribuan nyawa lainnya akan selalu menentang kebiadabnmu wahai para monster laknat. Walau hanya berdiam menjadi sebuah masjid. Aku akan menjadi saksi atas keberanian dan ketulusan hati para syuhada’ mulia itu. Karena akulah Al-Aqsa, saksi bisu perjuangan ini.
dikutip hari
Embun Cinta

Subscribe: 

Benar saudaraku, monster monster sedang merajalela di tanah Palestina. Selamat jalan para mujahid. Kedatanganmu telah di elu elukan penduduk langit.
Monster-monster itu selayaknya diperangi dengan segala daya. Sepenuh doa. tak henti!
Allahu Akbar jgn pernah mundur saudaraku para tentara Allah dr tanah al aqso